- Back to Home »
- Artikel Jepang »
- Rahasia Karakter Bangsa Jepang yg mengagumkan
Posted by : WY11
8 Maret 2013
Karakter 7: Bekerja sebagai pengabdian
Tidak terasa, kita telah mengenal 6 karakter bangsa Jepang sebelumnya yaitu:
rasa syukur, cinta tanah air, kepatuhan, kejujuran, disiplin, sopan & hormat. Enam karakter ini saja sudah membuat kita terkagum-kagum dengan perilaku mereka. Untuk berikutnya, kita akan mengenal lebih lanjut sifat dan karakter kerja keras bangsa Jepang. Satu karakter ini
yang mempercepat bangsa Jepang menjadi raksasa ekonomi dunia. Mari kita simak ulasannya.
Memang benar, bangsa Jepang adalah bangsa yang senang bekerja keras. Bagi orang Jepang bekerja adalah segalanya. Artinya mereka menganggap bekerja sudah seperti ibadah bagi hidup
mereka. Etos kerja orang Jepang adalah hal yang paling menarik diamati. Tidak salah jika banyak negara di dunia memberikan julukan para pekerja Jepang sebagai seorang ”workholic”. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai etos kerja yang menarik untuk
disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.
Budaya Kerja Pelayanan Publik
Kunjungan ke negeri Sakura kemarin, saya tidak melewatkan kota Kobe. Jam 8.00 pagi saya sudah di Stasiun Osaka menuju Kobe menggunakan kereta Hankyu Line. Hanya perlu waktu sekitar 45 menit sampai di stasiun Kobe. Pelabuhan Kobe atau dikenal Kober Harborland & Mozaic Garden, adalah tujuan pertama saya. Keluar dari stasiun masih sekitar jam sembilan pagi, saya berjalan menyusuri jalanan utama penuh dengan deretan shopping mall, kantor bank dan salah satunya Government Building (Gedung pemerintahan Kobe). Di dorong oleh rasa penasaran dan merasa masih pagi, saya ingin juga mampir melihat bagaimana suasana kantor pemerintahan di sini.
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi di gedung perkantoran pemerintah tersebut. Para pegawai semua sigap bekerja sama seperti gerakan semut. Tidak ada pegawai yang diam termangu, apalagi membaca koran. Seluruh karyawan bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Saya tak habis pikir dan saya amati mereka yang sedang bekerja tersebut. Kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang sibuk dengan pekerjaan yang tidak penting seperti kantor pemerintahan di Indonesia. Ingin saya mengetahui apa yang mereka kerjakan di komputer, sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, konsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut.
Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama-tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Jika ada satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi gerak cepat atau lari-lari kecil dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya.
Saya hampir tak percaya, bahwa gaji mereka - para pegawai tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.
Seorang rekan yang pernah studi di sini juga mengatakan, begitu anda masuk ke kantor
pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Di lain tempat saya juga membaca prinsip "The biggest for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang - orang yang kurang beruntung. Pameo iklan yg sempat terkenal di media kita "Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dibuat mudah" kelihatannya tidak akan dijumpai di Jepang. Memang benar etos kerja orang Jepang tidak perlu diragukan lagi.
Mengapa orang Jepang suka Kerja Keras?
Jam resmi masuk kantor di Jepang baik pegawai negeri atau swasta dimulai pukul 9.00 pagi, selesai pukul 17.00 sore. Namun anggapan di Jepang selama ini, jika ada seorang pegawai yang datang pukul 9 pagi dan pukul 18.00 sudah sampai rumah, maka bisa disebut hal itu seperti tidak niat kerja. Umumnya mereka baru beranjak dari kantor pada pukul 20.00. Itu pun tidak langsung ke rumah. Biasanya – khususnya kaum pria – bersosialisasi dulu dengan rekan-rekannya entah di restoran, karaoke atau tempat lainnya.
Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting, malas dan tidak produktif. Bagi orang Jepang pulang cepat adalah sesuatu yang “memalukan” di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk
“kurang pengabdian” pada perusahaan. Orang Jepang sudah terbiasa kerja extra dengan tanpa adanya uang lembur. Mereka terbiasa menghabiskan waktu di tempat kerja dengan mengorbankan waktu bagi keluarganya. Tak aneh kalau orang Jepang suka bekerja keras. Selain merupakan status dan prestise bagi mereka. Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi.
Berbeda dengan negara kita, masyarakat kita mengukur status sosial seseorang dilihat dari
besarnya rumah, kekayaan, mobil yg dimiliki atau juga jabatan dalam pekerjaan. Orang Jepang lebih menghargai bentuk pengabdian dan pekerjaan yang dilakukan, bukan melihat
kekayaan seseorang.
Bagi orang Jepang Bekerja adalah ‘Kebutuhan’, bukan ‘Kewajiban’ Namun, walau mereka pulang malam, mereka tetap disiplin. Bahkan disiplin sangat tinggi karena meski pulang larut malam, keesokan harinya datang tepat waktu ke kantornya. Karena itu jika kita pergi ke Tokyo atau
Osaka, deru kereta api sudah bersliweran di stasiun sejak pukul 06.00 pagi. Sekitar pukul 7.00 pagi sudah banyak kita temui pria wanita berseragam kantor berjalan cepat menuju kantor. Itu kesibukan yang saya lihat saat pagi di stasiun kota.
Orang Jepang bekerja ternyata tidak sekedar untuk memperoleh gaji, tapi dalam pekerjaan itu-lah
terdapat kenikmatan hidup. Dr. Takeshi mengatakan seandainya seorang Jepang ditanya : "Jika ada kesempatan anda menjadi milyuner dan kemudian tidak perlu bekerja lagi tinggal menikmati saja, apakah anda akan berhenti bekerja ?", maka dipastikan orang Jepang tersebut akan menjawab, "Saya tidak akan berhenti, terus bekerja." Bagi orang Jepang kerja itu seperti bermain dengan kawan akrab.
Ini cerita dari sebuah blog mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang. Dia menceritakan secuplik kisah yang bisa dijadikan ilustrasi tersebut. Ada seorang pekerja bernama Hiroshi Ebihara. Dia seharusnya sudah pensiun setahun yang lalu. Kini usianya sudah 63 tahun, tetapi lelaki tua itu tetap bekerja setiap hari. Bukan karena keharusan, tapi ia memang menginginkannya. "Saya ingin bekerja sampai umur 70 tahun, kata Ebihara optimists. Perusahaan mengizinkan saya bekerja hingga usia 70 tahun, jadi sekarang giliran saya menunjukkan ras terimakasih dan bekerja untuk perusahaan selama masih dizinkan". Pria yang bertanggung jawab atas lingkungan tempat Ebihara bekerja adalah Noburi Kamoda. Hebatnya ternyata umur pak Kamoda ini jauh lebih tua ketimbang Ebihara sendiri yakni : 76 tahun !
Perusahaan sebagai bagian dari keluarga
Bangsa Jepang tidak menganggap tempat kerja hanya sekadar tempat mencari makan, tetapi juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarga dan kehidupannya. Kesetiaan mereka pada perusahaan melebihi kesetiaannya pada keluarga sendiri. Mereka selalu berusaha memberikan kinerja terbaik
pada perusahaan, pabrik, atau tempat mereka bekerja. Budaya kerja seperti itu tidak lahir dan terwujud dengan begitu saja. Budaya itu dipupuk dan dilatih selama berabad-abad, sehingga akhirnya mengakar dalam pemikiran dan jiwa mereka.
Semangat Mengabdi pada Perusahaan
Hal unik lainnya dari sistem kerja masyarakat Jepang adalah totalitas pengabdian mereka pada organisasi/perusahaan tempat mereka bekerja. Bagi mereka kerja yang dilaksanakan secara efektif dan efisien hingga cepat diselesaikan adalah lebih penting daripada menuntut tambahan uang lelah. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka bahkan rela bekerja tanpa digaji karena menganggap bahwa pekerjaan adalah sebuah kewajiban. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar,
secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen
pada pekerjaan.
Berhasil dalam kerja serasa membuat diri mereka punya arti turut menyumbangkan kebaikan untuk kaisar dan Negara. Bekerja bagi mereka lebih dari sekedar mencari uang, atau untuk kehidupan
keluarga. Bagi mereka bekerja adalah bentuk pengabdian kepada Negara & Kaisar. Spirit ini adalah warisan dari para Samurai, dengan semangat bushido nya yang total dalam melayani tuannya. Jadi, tidak heran jika pekerja Jepang mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa
mengenal lelah, bosan, dan putus asa. Juga mampu mencurahkan perhatian, jiwa, dan komitmen pada pekerjaan yang dilakukannya. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri, dan perdagangan.
Hubungan atasan bawahan yang harmonis
Di Jepang, setiap pekerja mengetahui tugas dan perannya di tempat kerja. Mereka tidak bekerja sebagai individu, tetapi dalam satu pasukan, sehingga tidak ada jurang yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak bersaing, tetapi bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas. Di Jepang, semua pekerja tidak memandang pangkat dan berada pada kedudukan yang sama.
Jabatan tinggi atau rendah tidak penting dalam etika dan pengelolaan kerja bangsa Jepang. Di tempat kerja, meja pegawai dan atasan diletakkan dalam suatu ruang terbuka tanpa pemisah. Tidak ada dinding pemisah seperti kebanyakan ruang kantor di Indonesia. Pengelola tidak dipisahkan
dari bawahan mereka. Tidak ada ruangan khusus untuk golongan pengelola. Tempat duduk dan meja di susun dan diletakkan berdekatan dengan pengelola bagiannya agar memudahkan bawahannya menghubungi mereka. Dengan demikian, mereka dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan bertukar
pendapat kapan saja.
Susunan ruangan kantor seperti itu bukan agar atasan mengawasi bawahannya. Melainkan lebih berfungsi sebagai tempat dan saluran untuk berbincang dan bertukar pandangan. Walau
begitu, duduk dalam keadaan rapat tidak digunakan untuk membicarakan hal yang tidak berguna. Mereka hanya berbicara dan bercanda setelah jam kerja.
Cara yang digunakan bangsa Jepang adalah salah satu cara membentuk dan menjalin hubungan erat antar pekerja. Semua pekerja mempunyai tugas dan tanggung jawab penting, sehingga mereka tidak merasa asing. Selain itu, antar sesama, mereka memiliki ikatan emosi yang kuat. Begitu juga dengan rasa sentimen dan keterikatan mendalam terhadap perusahaan, pabrik, dan tempat kerja mereka. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan.
Kualitas Pekerja di Jepang Mengagumkan
Pada saat para pekerja di negara-negara industri Eropa Barat dan AS mengalami penurunan produktivitas, para pekerja Jepang menunjukkan prestasi yang cukup mengagumkan. Dari sebuah survey di Jepang, setiap sembilan hari, seorang pekerja di Jepang menghasilkan sebuah mobil senilai seratus seribu Poundsterling. Padahal, pekerja di perusahaan Leyland Motors, Inggris, memerlukan waktu empat puluh tujuh hari untuk menghasilkan sebuah mobil bernilai sama. Kecekatan, keahlian, dan kecepatan pekerja Jepang jelas melebihi pekerja di negara mana pun.
Seorang pekerja Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam orang. Di Indonesia misalnya, untuk memperbaiki jalan raya yang rusak, mungkin diperlukan lima belas orang. Mulai dari pihak yang menerima pengaduan, yang mengawasi, yang
mengangkat peralatan, pemandu, hingga yang bertanggung jawab mengolah ter (aspal), dan yang menutupi jalan yang rusak. Di Jepang, pekerjaan itu dapat di kerjakan oleh tiga orang saja. Oleh karena itu, pekerja Jepang digaji tinggi karena mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan lebih dari satu orang.
Jadi, jika ada negara yang ingin seperti Jepang, mereka juga perlu memiliki pekerja yang mampu mengerjakan berbagai pekerjaan dalam waktu yang sama. Pekerja di Jepang tidak hanya mampu bekerja dengan baik, tetapi mau bekerja lembur tanpa bayaran lebih. Bagi mereka, yang terpenting adalah pekerjaan tersebut dapat selesai secepatnya. Mereka tidak terlalu memikirkan imbalan karena imbalan tersebut dapat diperoleh dengan menunjukkan prestasi yang memberi semangat dan ketika perusahaan memperoleh keuntungan.
Pekerja Jepang layak menerima gaji tinggi karena kualitas kerja mereka. Di samping itu, sikap dan cara kerja mereka juga sepantasnya mendapatkan gaji tinggi. Pekerja di Indonesia perlu mencontoh sikap kerja bangsa Jepang jika ingin menjadi negara maju.
Disiplin kerja yang tinggi
Untuk melancarkan urusan pekerjaannya, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian dan perdagangan. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai saat ini. Ukuran nilai dan status
orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.
Jenjang Karir di Jepang
Dr. Anto Satryo Nugroho, seorang peneliti BPPT asal Solo yang alumni Nagoya Institute, bercerita dalam blognya tentang pengalaman rekannya yang sama-sama doktor. Sang rekan harus memulai dari bawah saat melamar di Japan Railway (JR), perusahaan kereta api di Jepang. Rekannya yang bergelar doktor itu tidak langsung menjadi peneliti di JR, namun harus
mengikuti berbagai pelatihan berkaitan dengan perkeretaapian. Pelatihan ini benar-benar mulai dari kursus mengemudikan shinkansen (kereta cepat) yang bisa melaju hingga 300 km per jam, hingga memiliki menkyo (surat ijin) mengemudikan kereta api.
Setelah mahir, sang rekan itu masih harus mengikuti pelatihan kebersihan kereta. Jadi, mulai dari cara menyapu, mengelap dan mengepel kereta api harus dilakoni. Selesai pelatihan kebersihan, sang doktor itu harus mempelajari ketrampilan sebagai montir, memperbaiki berbagai kerusakan yang mungkin terjadi pada sebuah kereta api. Jadi sebagai doktor material, ia pun harus bersimbah oli, debu dan aneka peralatan mekanik. Namun apa hasilnya dari semua proses pelatihan tadi? Setelah beberapa tahun, sang rekan begitu mengerti bagaimana kereta api itu dijalankan sedetail-detailnya. Sehingga memudahkan dia bekerja menjalankan profesinya sebagai peneliti di sana.
Produk Jepang diakui Dunia
Sebelum perang, barang produksi Jepang dianggap tidak berkualitas dengan mutu amat rendah. Begitu juga setelah perang, barang berlabel Made in Japan tidak laku di pasaran dan sering dilecehkan jika dibandingkan dengan produksi dan Barat. Pada awal era 1950-an, radio, perekam
pita, dan peralatan hi-fi dari Jepang tidak dapat menyaingi produksi AS dan menembus pasar dunia. Namun, bangsa Jepang tidak putus asa. Para peneliti dan pekerja Jepang terus berusaha memperbaiki produk mereka. Mereka terus melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan mutu
produksinya, sehingga produk mereka diakui sebagai yang terbaik di dunia. Hal serupa juga terlihat dan barang barang produksi seperti jam tangan, motor, barang elektrik, kapal, tekstil, dan sebagainya. Namun itu berlaku untuk era 1950-1970an saja. Pada era 1980an barang-barang
Jepang makin berkualitas, era 1990an orang mencari barang-barang produk Jepang. Maka sekarang jika anda perlu ke Jepang, mau membeli laptop, kamera, ponsel, jam tangan, justru produk Jepang
tidak mudah didapat. Kebanyakan produk yang ada adalah merek Jepang, namun dibuat di Cina, Vietnam, Malaysia, Thailand dan Indonesia. Oleh karena perusahaan Jepang lebih memilih membangun industri diluar negeri karena pertimbangan pangsa pasar, bahan baku, tenaga kerja yang lebih murah di luar negeri. Menurut data, di Indonesia saja ada sekitar 1000 perusahaan Jepang yang mendirikan pabrik di negara kita. Dengan memiliki para pekerja yang punya etos kerja sebagus itu, Jepang tentunya memiliki modal yang luar biasa dalam membangun kemajuan negeri. Di bidang pariwisata misalnya, siapa yang tidak senang mengunjungi negara yang manusianya penuh penghormatan, kesantunan dan kesungguhan dalam melayani? Di bidang industri, siapa yang tidak percaya pada kualitas produk yang digarap oleh para pekerja yang andal, tekun dan teliti? Yang tidak bekerja sambil ngobrol sendiri atau bekerja alakadarnya, asal bekerja.
Tradisi cara hidup Jepang yang hormat, santun dan kesungguhan tetap membuahkan etos kerja yang unggul. Bisakah kita jadi seperti mereka, menghormati apapun profesi kita dengan menghadirkan kinerja unggul untuk selalu mampu menghormati dan melayani orang lain dengan prima? Kalau kesadaran bekerja adalah untuk melaksanakan sebuah ibadahNya yaitu berkarya dan berbuat banyak bagi kepentingan manusia lain, tentunya dengan senang hati kita layak menjawab: bisaa…….. Karena sesungguhnya kita memang bisa..
Banyak Negara ingin Meniru Jepang
Banyak negara di Asia yang menjadikan keberhasilan Jepang sebagai sumber inspirasi mereka. Akan tetapi, tidak satu pun yang mampu mencontoh dan mengulang secara utuh keberhasilan Jepang. Mencontoh keberhasilan Jepang tanpa menerapkannya melalui tindakan tentu saja tidak memberikan hasil apa-apa. Bangsa Jepang cepat dan tanggap bertindak, Sehingga mereka cepat bangkit dari kehancuran. Mereka tidak menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Sekali mendapatkan peluang, mereka tidak melepaskannya.
Salah satunya yang meniru bangsa Jepang adalah Korea Selatan. Seperti halnya Jepang, Korea Selatan juga mengalami kehancuran ekonomi yang dahsyat akibat perang saudara dengan Korea
Utara. Ketika saudara kandungnya itu masih berhadapan dengan kemiskinan, perekonomian Korea Selatan telah berkembang dengan pesat, sehingga muncul sebagai penguasa baru dalam perekonomian Asia. Namun, kemajuan ekonominya masih belum dapat mengalahkan Jepang.
Oleh karena itu, kalau kita hendak menjadikan Jepang sebagai cermin, akan kelihatan
bahwa Jepang berkembang menjadi negara industri pada masa sesudah Perang Dunia II (ketika dia dikalahkan oleh Amerika dan sekutunya), adalah berkat kerja keras mereka sebagai bangsa yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Mereka ingin membangun bangsa dan negaranya dari reruntuhan Perang Dunia, maka mereka bekerja dengan penuh kesungguhan sambil benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Setelah mereka mencapai kemajuan sehingga menjadi pemimpin ekonomi dunia, semua negara tertuju pada negara Jepang.
Gaya Berpikir orang Indonesia
Bagaimana jika kita bandingkan dengan etos kerja orang Indonesia. Kecenderungan orang Indonesia (walaupun tidak semua) kerja yang santai tapi dapat hasil (gaji) banyak. Kalau bisa ditunda besok, kenapa harus dikerjakan sekarang. Dan masih banyak lagi etos kerja bangsa kita yang masih rendah. Pertanyaannya bagaimana memperbaiki etos kerja dan semangat membangun bangsa kita? Kelihatannya masih perlu usaha dan waktu yang panjang.
Salam etos,
Markus Tan
> Penulis buku best seller "18 Plus Rahasia Sukses Anthony Robbins"
Sumber : Disini
